Jan 10, 2015

Romantika Rasul (Aisyah r.a)

Tentang #Romantika Rasul ^^






Romantika Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dan Aisyah

Selazimnya para istri yang menunggu suami mereka selepas perjalanan perang, di musim panas itu Aisyah menunggu Rasulullah di perbatasan kota Madinah. Setelah beberapa lama menunggu, lelaki yang paling dirindukan Aisyah pun tiba di hadapannya.

Setibanya di rumah, setelah Baginda Nabi melepas baju perangnya dan menurunkan perbekalan, Aisyah menyuguhkan segelas minuman manis nan segar untuk suami yang begitu dicintainya. Tanpa menunggu lama, Rasulullah pun meminumnya.

Sambil memerhatikan kekasihnya meminum minuman manis segar yang disediakannya, Aisyah tampak menunggu sesuatu. Biasanya Muhammad Rasulullah akan menyisakan setengah gelas minuman yang disediakan Aisyah untuk diminum berdua bersama istri kesayangannya itu.

Tetapi kali ini Sang Nabi tampak menenggak gelasnya lebih lama dari biasanya. Hingga lewat setengah gelas, Aisyah tetap menunggu, tetap menunggu, barangkali suaminya lupa sesuatu… Tetapi ternyata Rasulullah terus saja meminumnya sendirian.

Sebelum minuman di gelas Sang Nabi habis, Aisyah yang gelisah tak bisa lagi menyimpan pertanyaannya, “Ya Rasul, biasanya engkau menyisakan minumanmu untuk kuminum?”

Mendengar pertanyaan istrinya, Muhammad Rasulullah berhenti sejenak. Dengan gelas yang masih di bibirnya, Sang Nabi hanya melirik Aisyah dengan ujung matanya, kemudian melanjutkan lagi minumnya dengan lahap.

Aisyah tampak gusar, kali ini ia merasa ada yang berbeda dengan suaminya itu, “Wahai Rasul, mengapa engkau tidak berikan gelas itu agar aku bisa minum dari gelasmu, seperti biasanya?”

Mendengar istrinya yang terus merajuk, Maulana Muhammad akhirnya berhenti dan menyisakan sedikit air di gelasnya. Tanpa menunggu lama, Aisyah segera mengambil gelas itu dan mulai meminum airnya.

“Rasanya asin sekali!” Aisyah seketika memuntahkan air yang baru saja diminumnya. Ternyata, hari itu Aisyah keliru memasukkan garam ke dalam minuman suaminya!

Aisyah yang merasa bersalah segera meminta maaf. Rasulullah menganggukkan kepalanya sambil menatap istrinya dengan penuh kelembutan.

Sementara lelah belum hilang dari punggung Sang Nabi, siang itu terik matahari menampar-nampar kota Madinah. Tetapi di rumah Muhammad dan Aisyah, akhlak seorang suami telah menjadi sesuatu yang paling menyejukkan hati.

1 comment:

Umi Andhani said...

iseng buka..baca-baca...terharu sendiri, jadi pengen nangis
masyaallah :"

author
Design Dakwah
Sebuah page nirlaba yang berkarya untuk menyebarkan dakwah melalui Visual dakwah.